Dari 2005 sampai Banjir-Longsor 2025: Apa yang Tidak Pernah Dipelajari Negara?
Dari tsunami Aceh 2004 hingga banjir-longsor Sumatra 2025, Indonesia mengalami pola bencana berulang yang menewaskan ribuan jiwa, dengan pelajaran mitigasi yang gagal diterapkan secara konsisten. Tsunami Aceh menewaskan ratusan ribu orang karena minimnya sistem peringatan dini dan pemahaman risiko, sementara banjir-longsor akhir 2025 di Aceh, Sumut, dan Sumbar menewaskan 1.137 orang akibat cuaca ekstrem ditambah degradasi hutan. Negara tampak lambat dalam mengubah regulasi menjadi aksi nyata.
Pelajaran Tsunami Aceh 2004
Tsunami Aceh dipicu gempa 9,1 skala Richter di zona megathrust, menghancurkan infrastruktur dan menewaskan 167.000 orang di Indonesia. Kearifan lokal seperti "Smong" di Simeulue menyelamatkan nyawa, menekankan pentingnya komunikasi risiko dan evakuasi cepat. Pasca-bencana, dibentuk sistem peringatan dini dan regulasi seperti UU No. 24/2007, tapi implementasi terbatas pada respons darurat, bukan pencegahan jangka panjang.
Dampak Banjir-Longsor 2025
Bencana hidrometeorologi ini dipicu siklon tropis Senyar dan curah hujan ekstrem 300 mm/hari, memengaruhi 3,3 juta jiwa di Sumatra Utara (371 tewas), Sumbar (261 tewas), dan Aceh (503 tewas). Kerusakan mencakup 37.546 rumah rusak, ribuan fasilitas umum hancur, dan kerugian Rp68,67 triliun. BNPB catat 3.116 bencana sepanjang 2025, didominasi hidrometeorologi akibat perubahan iklim.
Kekurangan Mitigasi Berulang
Degradasi hutan di hulu DAS (1,4 juta ha hilang 2016-2024) akibat tambang dan sawit hilangkan fungsi resapan air, ubah hujan normal jadi banjir bandang. Kurangnya sinergi DRR-CCA, minim anggaran, dan komitmen politik lemah hambat infrastruktur seperti sirene evakuasi di Aceh. Edukasi seremonial dan pemukiman rawan bencana abaikan pelajaran Aceh.
Apa yang Tak Dipelajari?
Pemerintah prioritaskan investasi (tambang, PLTA, dll.) daripada ekologi, dengan regulasi ada tapi implementasi lemah dan respons lambat. Tidak ada moratorium lahan kritis atau kurikulum bencana wajib sekolah, meski bencana berulang tiap tahun. Faktor manusia seperti deforestasi jadi "dosa ekologis" utama, bukan sekadar cuaca.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar anda